Media Dalam Perspektif Ekonomi Dan Politik
MEDIA DALAM PERSPEKTIF EKONOMI DAN POLITIK
Faisal
Hamdan Fuadi (B95219098)
A.
Definisi Media
Istilah “media” berasal dari kata Latin (tunggal:
medium-ii) yang bearti sesuatu “di antara”. Selain itu juga bermakna sesuatu
yang “muncul secara publik”, “milik publik”, atau “mediasi” dan karenanya
merujuk pada sebuah ruang publik sebuah locus publicus. Demikian esensi dari
media tidak bisa dipisahkan dari persoalan antara ranah publik dan privat, yang
kerap kali problematis. Media memediasi kedua ranah itu untuk mencari
kemungkinan (atau ketidak-mungkinan) terhadap hidup bersama. Dalam hal ini, apa
yang membentuk media terentang cukup luas mulai dari ruang fisik seperti
lapangan, alun-alun, teater, dan tempat-tempat pertemuan, hingga non- fisik
seperti: surat kabar, radio, televisi, internet, dan ruang untuk interaksi
sosial. Wujud non-fisik inilah yang paling banyak dirujuk. Dengan raison ini,
tujuan adanya media adalah untuk menyediakan sebuah ruang di mana publik dapat
berinteraksi dan terlibat secara leluasa terkait hal-hal yang berkenaan dengan
keprihatinan publik. Gagasan ini bisa dilacak dari pandangan Habermas mengenai
ranah publik.
Media adalah alat untuk menyampaikan pesan, menggunakan alat-alat komunikasi seperti surat kabar, radio, televisi, film, dan sebagainya. Terdapat berbagai macam media yang ada saat ini diantaranya:
1. Media massa cetak, yang merupakan media yang dicetak
dalam bentuk lembaran kertas yang berbentuk surat kabar, tabloid, majalah,
buku, dan lain lain.
2. Media massa elektronik, yang informasinya disalurkan
melalui suara atau gambar dengan menggunakan teknologi, seperti radio, televisi
dan film.
3. Media massa online, yang merupakan jenis media baru
yang mudah diakses oleh banyak khalangan seperti instagram, facebook, twitter,
dan lain-lain.
Media saat ini berusaha dengan gayanya untuk memberikan gambaran dari sebuah kehidupan yang harus terungkap, sehingga publik dapat menilai dan memutuskan bagaimana harus bersikap. Media sebagai jembatan bagi masyarakat dengan pemerintah.
A.
Media Dalam Perspektif Ekonomi Politik
Ekonomi
Politik Media Menurut Doyle (2002) perkembangan media massa yang liberal dan
global mencerminkan dominannya dunia struktur politik dan ekonomi, dan pemilik
modal. Dalam era globalisasi maklumat yang melanda negara-negara di dunia
termasuk Indonesia muncul kecenderungan organisasi media komunikasi yang lebih
mementingkan aspek komersial. Ketidak adilan media massa sebagai medium suara
rakyat mendapat kecaman daripada berbagai kelompok masyarakat. Pendekatan
ekonomi politik pada dasarnya mengaitkan aspek ekonomi (seperti kepemilikan dan
pengendalian media), keterkaitan kepemimpinan dan faktor-faktor lain yang
menyatukan industri media dengan industri lainnya, serta dengan elit politik,
ekonomi dan sosial. Atau dalam bahasa El1iot, studi ekonomi politik media
melihat bahwa isi dan maksud yang terkandung dalam pesan-pesan media ditentukan
oleh dasar ekonomi dari organisasi media yang menghasilkannya. Organisasi media
komersial harus memahami kebutuhan para pengiklan dan harus menghasilkan produk
yang sanggup meraih pemirsa terbanyak. (Sudibyo, A, 2000)
Teori
ekonomi politik media fokus pada media massa dan budaya massa, dimana keduanya
dikaitkan dengan berbagai permasalahan sosial yang terjadi di masyarakat. Teori
ini mengindentifikasi berbagai kendala atau hambatan yang dilakukan para
praktisi media yang membatasi kemampuan mereka untuk menantang kekuasaaan yang
sedang mapan. Dimana penguasa membatasi produksi konten yang dilakukan pekerja
media, sehingga konten media yang diproduksi tersebut kian memperkuat status
quo. Sehingga menghambat berbagai upaya untuk menghasilkan perubahan sosial
yang konstruktif. Upaya penghambatan para pemilik pemodal, bertolak belakang
dengan teoritikus ekonomi politik ini, yang justru aktif bekerja demi perubahan
sosial.
Menurut
Barant (2010:263), para teoritikus ekonomi politik menitikberatkan pada
bagaimana proses produksi konten dan distribusi dikendalikan. Kekuatan utama
teori ini terletak pada kemampuannya dalam menyodorkan gagasan yang dapat
dibuktikan secara empiris, yakni gagasan yang menyangkut kondisi pasar. Salah
satu kelemahan aliran ekonomi politik ialah unsur-unsur yang berada dalam
kontrol publik tidak begitu mudah dijelaskan dalam pengertian mekanisme kerja
pasar bebas. Walaupun aliran memusatkan perhatian pada media sebagai proses
ekonomi yang menghasilkan komoditi (isi), namun aliran ini kemudian melahirkan
ragam aliran baru yang menarik, yakni ragam aliran yang menyebutkan bahwa media
sebenarnya menciptakan khalayak dalam pengertian media mengarahkan perhatian
khalayak ke pemasang iklan dan membentuk perilaku publik media sampai pada
batas-batas tertentu.
Ekonomi
politik adalah pendekatan kritik sosial yang berfokus pada hubungan antara
struktur ekonomi dan dinamika industri media dan konten ideologis media.
(McQuail,2011:105). Melihat hal ini maka institusi media merupakan sebagai
bagian dari sistem ekonomi dengan hubungan erat kepada sistem politik. Hal ini
mengakibatkan berkurangnya sumber media yang independen, konsentrasi pada
khalayak yang lebih luas, menghindari risiko, dan mengurangi penanaman modal
pada tugas media yang kurang menguntungkan. Pada sisi lainnya, media juga akan
mengabaikan kepentingan khalayak potensial yang kecil dan miskin, karena
dinilai tidak menguntungkan. Kemudian pemberitaan terhadap kelompok masyarakat
minoritas, cenderung tidak seimbang.
Barant (2011:250) menyebutnya teori ekonomi
politik media fokus pada penggunaan elite sosial atas kekuatan ekonomi untuk
mengeksploitasi institusi media. (Sucahya.M, 2013) Chomsky seperti dikutip oleh
David Cogswell (2006) menyatakan bahawa media massa adalah sistem pasaran yang
terpimpin, didorong oleh keinginan mencari keuntungan. Hal ini menandakan
bahawa media massa tidak lagi netral. Pada era demokratik dan liberal seperti
sekarang media massa penyiaran tidak lagi dipandang sebagai kekuatan civil
society yang harus dijamin kebebasannya, disebaliknya dilihat sebagai kekuatan
kapitalis, bahkan politik elit tertentu. Kekuatan media massa itu berupaya
mengkooptasi, bahkan menghegemoni negara sehingga masyarakat. Hal inilah yang
perlu dicermati secara kritis oleh para penggiat demokratik, termasuk para
wartawan. Jangan sampai kekuatan demokratik dibelenggu atas nama kebebasan
media massa untuk kepentingan politik para kapitalis penguasa media massa.
Dalam
masalah pendemokrasian sistem media massa, keterbukaan akses juga ditentukan
oleh hubungan kuasa. Penggunaan kuasa dalam media massa pula bergantung pada
faktor fasilitas ekonomi maupun politik. Dalam era globalisasi maklumat yang
melanda negara-negara dunia, muncul kecenderungan bahwa organisasi media massa
lebih mementingkan aspek komersial, kepentingan politik dan pemilik modal
(Giddens.A. 1993.Peter Golding & Graham Murdock (2000). Keadaan ini dapat
menjadi sebagai penghalang pendemokrasian sistem media massa. Dalam pendekatan
ekonomi politik, kepemilikan media (media ownership) mempunyai arti penting
untuk melihat peran, ideologi, konten media, dan efek yang ditimbulkan media
kepada masyarakat. Karena itu pertanyaan-pertanyaan mengenai “apakah perbedaan
pemilik media akan juga berarti adanya perbedaan pada konten media?” atau
“apakah perbedaan pemilik media dapat memberikan implikasi yang berbeda pula
kepada masyarakat selaku audience media?” menjadi sangat relevan
KESIMPULAN
Teori
ekonomi politik media fokus pada media massa dan budaya massa, dimana keduanya
dikaitkan dengan berbagai permasalahan sosial yang terjadi di masyarakat. Teori
ini mengindentifikasi berbagai kendala atau hambatan yang dilakukan para
praktisi media yang membatasi kemampuan mereka untuk menantang kekuasaaan yang
sedang mapan.
Institusi
media merupakan sebagai bagian dari sistem ekonomi dengan hubungan erat kepada
sistem politik. Hal ini mengakibatkan berkurangnya sumber media yang independen,
konsentrasi pada khalayak yang lebih luas, menghindari risiko, dan mengurangi
penanaman modal pada tugas media yang kurang menguntungkan. Pada sisi lainnya,
media juga akan mengabaikan kepentingan khalayak potensial yang kecil dan
miskin, karena dinilai tidak menguntungkan. Kemudian pemberitaan terhadap
kelompok masyarakat minoritas, cenderung tidak seimbang.
Pada era
demokratik dan liberal seperti sekarang media massa penyiaran tidak lagi
dipandang sebagai kekuatan civil society yang harus dijamin kebebasannya,
disebaliknya dilihat sebagai kekuatan kapitalis, bahkan politik elit tertentu.
Kekuatan media massa itu berupaya mengkooptasi, bahkan menghegemoni negara
sehingga masyarakat. Hal inilah yang perlu dicermati secara kritis oleh para
penggiat demokratik, termasuk para wartawan. Jangan sampai kekuatan demokratik
dibelenggu atas nama kebebasan media massa untuk kepentingan politik para
kapitalis penguasa media massa.
Komentar
Posting Komentar